Biografi ROMO DANIEL J.Afoan,Pr
Tokoh Penggagas dan Pendiri SMPK San Daniel Oepoli
Oleh: Simon Anunu
KATA PENGANTAR & SEKAPUR SIRIH
(Dapat diisi dengan sambutan dari Uskup Agung Kupang atau perwakilan tokoh umat Oepoli saat peluncuran buku)
DAFTAR ISI
Bab 1: Tanah Misi Amfoang Utara: Fajar Reksa Pastoral 1989
Bab 2: Warisan Kuda Pater Kock dan Solmisasi "Kita Pastilah Menang"
Bab 3: Satu Malam Dua Hari Dikepung Maut: Mukjizat Sungai Noelfael
Bab 4: Katekese "Ikat Jagung" dan Lahirnya KUB Santu Agustinus Mamlasi
Bab 5: Modal Rp 10.000 dan Sumpah "Satu Periuk" SMPK San Daniel
Bab 6: Badai di Pastoran: Gaji Rp 17.500 dan Insiden Pemecatan Guru
Bab 7: Warisan di Bawah Pohon Mangga: Melepas Daniel Broutieur menuju Yaswari
Epilog: Requeiscat in Pace dan Oepoli Zaman Now
BAB 1: Tanah Misi Amfoang Utara: Fajar Reksa Pastoral 1989
Pada tahun 1989, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD, Uskup Agung Kupang, mengambil keputusan penting. Beliau mengutus seorang imam projo (Pr), Romo Daniel J. Afoan, Pr, untuk menjadi Pastor Quasi Paroki Santu Stefanus Naikliu.
Kala itu, Naikliu dipilih sebagai pusat paroki karena statusnya sebagai ibu kota Kecamatan Amfoang Utara. Namun, Romo Daniel segera menghadapi realitas lapangan yang unik: Stasi Naikliu hanya dihuni oleh 17 Kepala Keluarga (KK) yang mayoritas adalah Pegawai Negeri Sipil, TNI, dan Polri—seperti Bapak Niko Simon (anggota polisi), Ibu Mami (bidan puskesmas), dan Camat bapak Agustinus Ora Geru.
Sementara itu, denyut nadi utama umat justru berada di Stasi Oepoli, tempat basis umat Katolik terbesar di wilayah tersebut berada. Maka dimulailah ritme hidup Romo Daniel: pusat paroki ada di Naikliu, tetapi pusat karya pastoralnya berada di Oepoli.
Melihat kedatangan sang gembala, tokoh-tokoh umat di garis depan tidak tinggal diam. Bapak Marsel Korbaffo selaku ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS), bersama tim katekis yang terdiri dari Bernardus Rajingan Poylado, Simon Anunu Metan, Yosep Taena, Bernardus Banafanu, serta para agen pastoral Naikliu seperti Paulus Penu, Petrus Tapobali, dan Teodorus Bay, langsung bergerak bahu-mambahu menyiapkan fondasi sebuah paroki mandiri.
BAB 2: Warisan Kuda Pater Kock dan Solmisasi "Kita Pastilah Menang"
Sebelum resmi menjadi paroki, umat Katolik Oepoli mendapat pelayanan pastoral yang jauh dari Paroki Eban, atas perintah Uskup Atambua saat itu, Mgr. Theodorus Sulama, SVD. Imam legendaris yang membekas di hati umat sebelum era Romo Daniel adalah seorang misionaris SVD bernama Pater Bernard Kock, SVD.
Pater Kock adalah pencinta anak-anak. Setiap kali usai merayakan Misa, ia selalu mengajak anak-anak bermain di Pantai Faefnafu (Faefnafu Beach). Misionaris ini terkenal menunggangi kuda menerjang medan Amfoang yang ganas. Ada satu lagu wajib yang selalu ia nyanyikan dengan penuh keyakinan, bahkan saat ia dan kudanya luput dari banjir bandang Sungai Noebesi yang dahsyat. Syairnya berbunyi:
"Kita pastilah menang bersama Kristus Tuhan dalam perjuangan hidup ini. Kupercaya teguh kuberharap kita pastilah menang."
Solmisasi lagu yang diwariskan oleh saksi hidup seperti Opa Yosep Romedi itu berbunyi demikian:
Plaintext
5 5 / 6 6 / 5 4 / 3. / 5 5 / 6 6 / 5 4 / 3 . / 5 5 / 6 7 / 1 . / 2 ./
Ki-ta pas-ti-lah me-nang ber-sa-ma Kris-tus Tu-han da-lam per-ju- a ngan
7 6 / 7 5 / 6 7 /1 . / 7. / 6 5 / 6 5 / 4 3 / 5 5 / 1 4 / 3 . / 2 . / 1 . /
Hi-dup i - ni ku-per-ca- ya te-guh ku-ber-ha-rap ki-ta pas-ti - lah me - nang
Napas lagu inilah yang kemudian dihidupkan kembali oleh Katekis Simon Anunu untuk membakar semangat anak-anak Sekami (Serikat Kepausan Anak Misioner) di seluruh KUB dan kapela: dari Kapela Santu Agustinus Mamlasi, Santa Veronika Biloka, Santu Laurensius Netemnanu di Taloi, hingga Santu Petrus di Tataum. Setiap Natal dan Paskah, konvoi Sekami melintasi pohon-pohon lontar Pokmeto dan padang sabana Napunef untuk melakukan kemping rohani.
Semangat berdikari ini menular pada pembangunan fisik. Di bawah gerilya pastoral Pater Kock dan dilanjutkan Romo Daniel, umat rela memikul batu dan pasir secara mandiri dari Sungai Noebesi menggunakan tenaga mereka sendiri karena tidak ada mobil pengangkut. Setiap kepala keluarga memiliki target tumpukan batunya sendiri hingga bangunan Kapela Santa Maria Oepoli berdiri tegak dan kokoh.
BAB 3: Satu Malam Dua Hari Dikepung Maut: Mukjizat Sungai Noelfael
Sebagai paroki baru, Romo Daniel menuntut dirinya untuk larut dalam lima tugas gereja (Panca Tugas Gereja): Liturgia (Liturgi), Kerygma (Pewartaan), Diakonia (Pelayanan), Koinonia (Persekutuan), dan Martyria (Kesaksian Hidup). Dan babak Martyria yang paling menguji iman Romo Daniel terjadi pada tahun 1990.
Menjelang sore hari yang kelabu, Romo Daniel J. Afoan bersama Paulus Penu dan Petrus Tapobali baru saja menempuh perjalanan jauh dari Kupang menggunakan oto (mobil) paroki yang disetir oleh Ama Belu. Setibanya di bibir Sungai Noelfael, jalan mereka dihadang oleh banjir. Mobil pun diparkir di tepi, menunggu air surut.
Didorong tanggung jawab besar untuk segera tiba di pusat paroki Naikliu, Romo Daniel mencoba berjalan kaki masuk ke dalam sungai untuk mengukur kedalaman air. Sial tak dapat ditolak, dalam hitungan detik air bah kiriman naik secara ekstrem. Tubuh Romo Daniel terseret arus deras menuju muara laut yang berjarak hanya 100 meter di depannya. Di seberang sungai, Paulus Penu dan warga berteriak histeris. Romo Daniel hilang ditelan kegelapan malam dan vegetasi hutan yang pekat.
Selama satu malam dua hari (24 jam lebih), Romo Daniel dikepung banjir bandang. Dalam kesendirian di tengah amukan air, Romo Daniel berserah pasrah:
"Ya Bapa Tuhan Yang Maha Kuasa. Alam ini Kau atur. Jangan biarkan hamba-Mu ini larut dalam bencana alam. Luputkan aku dari serangan maut banjir yang dahsyat ini, bila Allah Bapa masih mau menggunakan aku di paroki ini untuk melayani umat-Mu."
Secara ajaib, kaki Romo Daniel menyentuh sebatang pohon kaswari besar yang tumbang. Di atas akar pohon itulah ia duduk bertahan di tengah kegelapan, sementara air sungai yang mengalir deras seolah terbelah dua di sisinya.
Di tepian sungai wilayah Desa Nunuanah, Kepala Desa yang beragama Kristen Protestan bersama para hansip berjaga semalaman suntuk dalam kecemasan. Sang Kepala Desa kemudian memberikan kesaksian yang menggemparkan: di tengah kegelapan malam dan hujan yang mengguyur deras, mereka melihat dua sosok malaikat berpakaian putih berkilau berdiri setia menjaga dan mendampingi Romo Daniel di tengah sungai.
Keesokan sorenya, saat banjir mulai mereda, Kepala Desa memimpin warga menerobos sisa arus sungai, menggotong Romo Daniel yang kakinya sudah kram total dan tubuhnya lemas karena tidak makan seteguk pun. Romo dibawa ke rumah Kepala Desa, di mana istri Kepala Desa yang beragama Protestan telah menyiapkan dua piring bubur beras hangat. Setelah menyantap bubur dan mandi air hangat, kekuatan sang imam pulih. Malam itu, rumah Kepala Desa dipadati warga lintas agama yang memandang Romo Daniel sebagai "orang suci yang disayang Tuhan dan Bunda Maria".
Sebagai bentuk syukur atas mukjizat ini, pada tahun 1990 umat menggelar Misa Syukur agung tepat di tengah Sungai Noelfael, dengan meja altar yang diletakkan langsung di atas akar pohon kaswari penyelamat tersebut.
BAB 4: Katekese "Ikat Jagung" dan Lahirnya KUB Santu Agustinus Mamlasi
Karya pewartaan Romo Daniel dan Katekis Simon Anunu dilakukan dengan menjemput bola ke Kelompok Umat Basis (KUB). Metode katekese yang digunakan sangat progresif untuk zamannya, yaitu Metode Analisa Sosial (Ansos) dan TAT (Tanggapan Amanat Teks). Sebelum katekese dimulai, Romo Daniel dan Simon selalu berduet menyanyikan lagu daerah “Ken neno napipinkit” (Kilat dan guntur membangkitkan semangat) sebagai simbol pertobatan (metanoia). Karena katekese sering berlangsung dari malam hingga dini hari, keesokan harinya mereka sering mengajar di sekolah dalam keadaan mengantuk.
Salah satu peristiwa unik terjadi di wilayah Mamlasi pada masa Aksi Puasa Pembangunan (APP). Saat Simon Anunu tiba untuk memimpin katekese, Guru Agama Kapela sekaligus Ketua KUB saat itu, Bonivasius Samone, mengabarkan bahwa umat tidak bisa berkumpul di kapela karena sedang sibuk memanen dan mengikat jagung di kebun di bawah terang bulan.
"Kalau begitu, malam ini kita buat Katekese Ikat Jagung!" cetus Simon.
Maka, di tengah tumpukan jagung dan di bawah sinar bulan purnama, katekese APP digelar. Umat mendengarkan firman Tuhan sambil tangan mereka sibuk mengikat jagung dan mengunyah jagung goreng agar tidak mengantuk. Selesai katekese, diskusi berlanjut hingga subuh membahas masalah pernikahan dan pendidikan anak. Malam itu, Simon Anunu dan ayahnya, Ignasius Saba Metan yang ikut menemani, tidur di kebun beralaskan tumpukan jagung.
Dari kedekatan kultural inilah, Simon melihat masalah pelayanan: umat Mamlasi yang berjumlah 10 KK selama ini harus bergabung dengan KUB Santa Bernadeta di Tataum yang jaraknya sangat jauh, sehingga ibadah Rosario sulit dijalankan. Simon membawa aspirasi ini ke rapat Dewan Pastoral Stasi dan Romo Daniel.
Akhirnya, Mamlasi diizinkan membentuk KUB mandiri. Simon mengusulkan nama KUB Santu Agustinus, mengambil filosofi hidup Santo Agustinus yang di masa mudanya merupakan anak nakal penuh dosa, namun berkat doa air mata ibunya (Santa Monika), ia bertobat total menjadi Uskup dan Pujangga Gereja yang menulis tentang maharahimnya Allah.
BAB 5: Modal Rp 10.000 dan Sumpah "Satu Periuk" SMPK San Daniel
Kepedulian Romo Daniel terhadap masa depan anak-anak Amfoang Utara tidak hanya berhenti di altar gereja. Pada waktu itu, anak-anak Oepoli yang ingin mengenyam pendidikan SMP harus berjalan kaki sangat jauh ke Naikliu atau pergi ke Kefamenanu.
Melihat keresahan ini, Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Amfoang Utara, Bapak Paulus Dae, mendekati Romo Daniel J. Afoan dan Simon Anunu untuk menghidupkan kembali SMP YURKAU yang sudah lama non-aktif. Pertemuan itu membuahkan hasil. Dengan dukungan penuh dari tokoh masyarakat Thom Kameo yang bersedia menjadi Ketua Komite, SMPK San Daniel Oepoli resmi berdiri pada tanggal 1 Juli 1990.
Untuk mendirikan sekolah formal, aturan hukum mewajibkan adanya yayasan pengelola. Romo Daniel kemudian menghadap Notaris Silvester Mambait, SH untuk membuat akta pendirian Yayasan Daniel Broutieur. Karena kondisi keuangan paroki yang sangat papa, modal awal yang dicatatkan dalam akta notaris tersebut hanya sebesar Rp 10.000 (sepuluh ribu rupiah!).
Nama "Daniel" dipilih bukan untuk mengkultuskan diri Romo Daniel J. Afoan, melainkan karena ia terinspirasi oleh kisah spiritual Santu Daniel Brottier, seorang imam misionaris Prancis yang mendirikan sekolah katolik bagi anak yatim piatu tanpa modal uang, melainkan murni bersandar pada penyelenggaraan ilahi.
Kisah ini sempat memicu kecurigaan di kalangan para imam Keuskupan Agung Kupang dalam acara rekoleksi di Wisma Oemat Honis Camplong, namun kesaksian jujur dari Katekis Simon Anunu di depan aula membuat seluruh pastor terdiam kagum. Di gerbang sekolah darurat itu, terpahat sebuah visi yang ditulis Romo Daniel pada bilah kayu: “Di sini aku diasah, diasuh, dan diasih.”
Untuk memulai operasional sekolah, direkrutlah 8 orang guru perdana yang visioner:
00001.
Ria Ngusu Damianus, A.Md (Kepala Sekolah & Guru PPKn)
00002.
00003.
Simon Anunu (Bendahara, Guru Agama Katolik & Kesenian)
00004.
00005.
Philipus Malo Bulu (Guru IPA Fisika/Biologi)
00006.
00007.
Laurensius Tefa (Guru Matematika)
00008.
00009.
Blasius Bria (Guru Bahasa Indonesia)
00010.
00011.
Martinus Siki (Guru Orkes/PJOK)
00012.
00013.
Ana Leha Totnay (Guru IPS Geografi/Sejarah)
00014.
00015.
Yosefina Manehat (Guru Keterampilan) (Romo Daniel J. Afoan sendiri turun tangan mengajar Bahasa Inggris)
00016.
Sebelum mengajar, kedelapan guru ini dikirim untuk mengikuti pembekalan di SMPK Santu Yosep Naikoten, Kupang. Di Oepoli, mereka tinggal bersama di satu rumah pastoran darurat yang beratap daun gewang dan berdinding pelepah bebak. Pintu rumahnya tidak punya kunci besi, hanya diikat dengan tali gewang.
Di rumah darurat inilah ikatan persaudaraan sejati lahir. Mereka menerapkan Sumpah Satu Periuk: memasak makanan untuk pagi, siang, dan malam dari satu periuk yang sama secara bergantian berdasarkan jadwal yang disusun oleh Simon Anunu. Untuk bertahan hidup, persediaan beras mereka murni mengandalkan pembagian dari lumbung padi gereja, yang dihasilkan dari sisa pemanfaatan Mesin Mol Padi milik Usaha Bersama (UB) AMO—mesin mol padi pertama di Oepoli hasil kerja sama Romo Daniel dengan Delsos Keuskupan Agung Kupang pada tahun 1994.
BAB 6: Badai di Pastoran: Gaji Rp 17.500 dan Insiden Pemecatan Guru
Pada tahun pertama (1990), SMPK San Daniel hanya memiliki 35 orang siswa. Dana operasional sekolah sepenuhnya mengandalkan uang SPP siswa sebesar Rp 2.500 per bulan. Akibatnya, gaji para guru tidak bisa dibayarkan setiap bulan, melainkan harus menunggu akumulasi di akhir tahun ajaran. Nilai gajinya pun sangat memprihatinkan: honor Kepala Sekolah hanya Rp 35.000 per bulan, sementara guru-guru lain berkisar antara Rp 17.500 hingga Rp 25.000 per bulan (ditambah jatah beras 10 kg dari Mol UB AMO).
Walau awalnya mereka bertahan dalam balutan motivasi rohani Romo Daniel, badai ekonomi akhirnya mengguncang solidaritas para guru.
Pada sebuah pagi yang cerah saat apel pukul 06.30 WITA, sebuah pemandangan ganjil terjadi. Di lapangan sekolah, hanya Simon Anunu yang berdiri seorang diri di hadapan para siswa untuk memimpin apel disiplin. Dari kejauhan, di jalan raya dekat pastoran, barisan guru-guru lain nampak berkumpul dan menolak masuk kelas. Dipimpin oleh Drs. Gregorius Anunut, mereka memutuskan untuk melakukan aksi mogok mengajar guna menuntut kenaikan gaji kepada Ketua Yayasan.
Simon Anunu memilih tidak ikut serta karena memegang prinsip bahwa eksistensi sekolah dan masa depan anak-anak Oepoli harus berada di atas urusan uang. Martinus Siki utusan kelompok mogok mendatangi Simon agar mendampingi mereka menghadap Romo Daniel. Setelah memastikan seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX diberikan tugas mandiri (metode kelas rangkap), Simon melangkah bersama rekan-rekannya mengetuk pintu pastoran.
Romo Daniel keluar dari kamarnya dengan wajah yang memerah menahan kecewa. Dari balik sekat daun gewang, ia telah melihat bahwa hanya Simon yang setia berdiri di lapangan sekolah.
Drs. Gregorius Anunut maju menyatakan aspirasi: "Kami mau mogok mengajar, supaya Ketua Yayasan menaikan gaji kami. Menurut kami gaji terlalu kecil, tidak cukup untuk biaya hidup."
Mendengar hal itu, Romo Daniel menjawab dengan tegas dan tanpa keraguan sedikit pun:
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi jadi guru di SMPK San Daniel Oepoli. Terima kasih atas kebersamaan kita selama ini. Maaf saya tidak bisa berlama-lama karena harus pergi ke sawah."
Keputusan kilat itu bagai petir di siang bolong. Para guru mogok keluar dari pastoran dengan lemas; mereka tidak menyangka tuntutan mereka akan dibalas dengan pemecatan seketika. Keesokan paginya, menyadari kekeliruan mereka dan digerakkan oleh rasa bersalah, beberapa guru seperti Martinus Siki dan Philipus Malo Bulu kembali menghadap Romo Daniel untuk meminta maaf secara mendalam dan memohon agar diterima kembali mengajar. Demi kelangsungan sekolah, Romo Daniel dengan hati kebapaannya menerima mereka kembali.
BAB 7: Warisan di Bawah Pohon Mangga: Melepas Yayasan Daniel Broutieur menuju Yaswari
Waktu terus berjalan, dan dinamika paroki menuntut regenerasi. Suatu malam yang larut, usai melaksanakan katekese keliling di KUB Santu Yosep yang menguras energi, Romo Daniel dan Simon Anunu duduk melepas lelah di bawah pohon mangga di belakang Pastoran Oepoli. Di bawah rindangnya pohon mangga yang menjadi saksi bisu tersebut, sebuah obrolan strategis mengenai masa depan sekolah bergulir.
Simon Anunu memberikan masukan yang visioner: "Romo, sebaiknya SMPK San Daniel Oepoli ini kita serahkan saja ke Yaswari (Yayasan Swasti Sari) Keuskupan Agung Kupang. Jangan sampai suatu saat ketika Romo dan saya sudah dipindahtugaskan dari Oepoli, pastor penggantinya tidak memiliki jiwa dan komitmen pendidikan yang sama seperti Romo. Kita harus pastikan sekolah ini tetap hidup selamanya."
Romo Daniel merenungkan kata-kata Simon dengan mendalam dan menyetujuinya. Sebelum Romo Daniel dipindahtugaskan untuk mengajar di Seminari Santu Rafael Oepoi Kupang (dan kemudian ke Kabupaten Alor), ia memerintahkan Simon Anunu untuk menyusun laporan inventaris dan kekayaan Yayasan Daniel Broutieur.
Pada tahun 1998, Romo Daniel J. Afoan dan Simon Anunu menghadap Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr. Di hadapan Bapak Uskup dan Ketua Yaswari saat itu, Suster Hildegardis, CB, seluruh aset SMPK San Daniel Oepoli diserahkan secara resmi, dan Yayasan Daniel Broutieur dinyatakan dibubarkan.
Aset yang diserahkan Simon Anunu saat itu tidak main-main, merupakan hasil keringat dan air mata umat serta guru selama bertahun-tahun: uang tunai sebesar Rp 11.000.000 (sebelas juta rupiah), 15 ekor sapi (yang digembalakan oleh Bapak Emanuel Daos), seluruh gedung darurat, serta seluruh komponen guru dan siswa.
Lewat penyerahan ini, status Simon Anunu dan guru-guru lainnya langsung diproses menjadi Guru Tetap Yayasan Swasti Sari (Yaswari). Simon sendiri hanya bertahan satu tahun sebagai guru Yaswari karena pada 1 Maret 2000, ia dinyatakan lulus seleksi CPNS dan ditempatkan di SDN Tataum sebelum akhirnya melanjutkan studi S1 Pastoral di STIPAS Keuskupan agung kupang dan meraih gelar S2 Magister Pendidikan di Pascasarjana Universitas Nusa Cendana Kupang dengan predikat Sangat Memuaskan (IPK 3,63).
EPILOG: Requeiscat in Pace dan Oepoli Zaman Now
Sejarah telah mengukir jalannya. Apa yang dahulu ditanam dengan cucuran air mata di tengah keterisolasian Amfoang Utara, kini telah tumbuh menjadi pohon yang rindang.
SMPK San Daniel Oepoli kini telah bertransformasi menjadi sekolah "Zaman Now" yang sangat maju di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah RD. Januario Gonzaga, Pr. Di media sosial dan platform digital, performa sekolah ini tampil dengan sangat memukau, bersaing ketat dengan perkembangan zaman melalui penerapan kurikulum Merdeka Belajar yang sukses.
Stasi Oepoli yang dahulu papa kini telah mandiri penuh menjadi Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli.
Semua kemajuan ini tidak akan pernah ada tanpa tetesan keringat para perintis. Perjuangan masa lalu kini telah menjadi kenyataan yang indah, dan masa depan menjadi harapan yang cerah.
Bagi pembaca buku ini, janganlah lupa untuk menyelipkan doa bagi ketenangan arwah almarhum Rm. Daniel J. Afoan, Pr dan almarhum Bapak Marcel Korbaffo. Mereka telah menyelesaikan pertandingan iman dengan jaya di dunia dan kini telah bahagia bersama Bapa di Surga.
Requeiscat In Pace (RIP). Beristirahatlah dalam damai di Rumah Allah Bapa, dan tetaplah menjadi pendoa bagi kami yang masih berziarah sebagai Gereja Pejuang di atas bumi Oepoli tercinta. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar